Seperti air, bila dibendung, ia akan menghasilkan tenaga dahsyat. Luapannya mampu memporakporandakan apa saja.

Demikianlah, perlahan kualirkan cinta dan kasih sayangku padamu, agar energinya perlahan mengalir, tidak merusak. Kita nikmati riaknya menyusur sungai yang menghantarnya ke muara. Entah dimana..

***

Awalmula, aku mencintaimu. Aku bahkan tidak tau harus bagaimana. Tidak sesiapa yang bisa kutanya. “Kita jalani saja, apaadanya” katamu. Tapi bahkan aku tidak tau bagaimana yang disebut apaadanya. Seperti kita akan berlayar ke pulau entahapa dan entahdimana. Aku tidak tahu. Pun tidak pernah terucap, ikrar janji sehidup semati yang biasa diucapkan orang yang saling mencintai. Padahal kita kan saling mencintai kan?!. “Ah, janji hanya membuka peluang untuk mengingkari”. Dan aku sepakat itu, seperti pertemuan yang membuka peluang untuk perpisahan. Tidak ada yang abadi bukan?!

***

Sampai aku menemukan keping dvd berjudul If only. Kupikir, inilah panduanku dalam mencintaimu. Start from the end. Meski aku bukan sang sutradara, alur cinta kita mungkin dapat ditebak akhirnya. Ingat, Tidak ada yang abadi bukan?!.

Karena itu, kucintai engkau seperti aku pernah merasa sakitnya kehilanganmu. Lalu sang sutradara memberiku satu kali lagi kesempatan untuk memilikimu. Dan disitulah aku sekarang. Mencintaimu penuh..penuh..dan penuh. Mencintaimu hari ini, seperti hari esok aku tidak akan disisimu lagi. Seperti berpacu dengan waktu. Dan aku ingin, setiap waktu yang kau ingat tentang cinta, itu adalah aku.

Lalu, aku menemukan buku Tuesday with Morrie, ia mengajarkanku tentang bagaimana menghargai kesempatan mencintai. “Saling mencintai atau punah”. Aku tidak tau, apakah hari esok masih milikku. Karena itu, kucintai engkau hari ini, dengan penuh..dan penuh.

Apabila kita belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar cara menjalani hidup.

Prof. Morrie Schwartz

Seperti itulah, kasih. Aku mencintaimu. Seperti kita akan berpisah, meski aku tau yang kita ingin adalah tetap bersama. Dan sebelum akhirnya perpisahan itu menjadi sebuah hal yang nyata, entah dengan cara seperti apa, juga entah dimasa yang mana, maka izinkan aku mencintaimu dengan penuh..dan penuh.

Apabila kita belajar tentang bagaimana sakitnya kehilangan, berarti kita belajar cara menjaga dan menghargai yang telah kita miliki.

Lalu, orang bijak mengingatkanku. Untuk mencintai sekedarnya saja. Sebab kata ‘Terlalu’ bukanlah milik kita. Apa yang salah pada orang-orang yang hari ini sangat mencinta, lalu esok menjadi sangat membenci? Betapa tipis jaraknya.

Kalau begitu, meski kucintai engkau dengan penuh, tapi mungkin harus sekedarnya saja, mungkin tidak mematikan logika. Agar tak ada peluang cinta kita menjadi benci. Memberikan ruang cinta yang lapang pada kebebasan bertali kepercayaan, pada pengorbanan bertali ke ikhlasan, pada ketulusan bertali kasih sayang, pada kata-kata bertali pengertian.

Beginilah, aku mencintaimu kasih..

Senin, 30 Maret 2009

0 Comments:

 
Inilah Aku - Wordpress Themes is proudly powered by WordPress and themed by Mukkamu Templates Novo Blogger